Menjaga kesehatan tubuh dengan berolah raga dan asupan nutrisi yang tepat, harus diimbangi dengan menjaga kesehatan jiwa. Artikel ini dalam rangka hari kesehatan jiwa sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober kemarin. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pertama kali dilakukan pada tahun 1992. Dengan demikian, hingga tahun ini sudah 20 kali Hari Kesehatan Jiwa diperingati namun, peringatan hari itu tidak mengurangi angka depresi di dunia.

Depresi kini sudah menjadi krisis global. Penderita depresi di dunia jumlahnya sudah dua kali penduduk Indonesia. Sakit jiwa ada yang ringan dan yang berat. Yang ringan misalnya ada kekhawatiran terus menerus tentang sesuatu seperti fobia. Sedangkan yang terberat adalah gangguan jiwa schizofrenia.

Sesungguhnya orang yang sehat jiwanya adalah yang bahagia. Orang bahagia bisa galau sesekali, tetapi tidak terus-menerus yang membuat aktivitasnya terganggu. Depresi dimulai dari gangguan kesehatan yang ringan. Faktor ketidakbahagiaan pemicu depresi bisa langsung melonjak tinggi jika ada faktor traumatis seperti perkosaan, kekerasan fisik, dan lain-lain.

Tujuan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini agar kita bisa mengenali gejala-gejala gangguan kesehatan jiwa yang mempengaruhi perasaan sejak dini. Kita harus menelusuri penyebab kebimbangan, kegalauan, dan lain-lain yang ada dalam hidup kita. Kita juga harus memperhatikan makanan-makanan yang masuk dalam pikiran kita. Kita bisa mengatasi gangguan jiwa ringan jika tahu cara mengelola pikiran. Demikian menurut Arvan Pradiansyah.

Berikut beberapa info tambahan tentang kesehatan jiwa yang kami salin dari cuitan akun Kompas TV tentang kesehatan jiwa dan tekanan menghadapi macet di jalan perkotaan :

2. Tanpa kita sadari, hal yang kita temui sehari-hari dapat mengganggu kesehatan jiwa, misalnya kemacetan. #KompasSehat

3. Macet sudah kita anggap sebagai bagian dari keseharian. Namun, ternyata memberi pengaruh buruk terutama bagi kesehatan jiwa. #KompasSehat

4. Karena sebenarnya tubuh kita tidak dirancang untuk dapat menahan stres dalam jangka waktu yang lama. #KompasSehat


6. Efek stres ini bukan hanya kepada individu tapi juga orang lain atau lingkungan terdekat.

7. Lebih parahnya lagi, hal ini berpengaruh kepada kesehatan badan dalam jangka waktu dekat maupun panjang.

8. Stres, frustasi, dan selalu timbul rasa tertekan adalah efek dari kemacetan. Sadarkah kamu, Sahabat?

9. Saling meneriaki, memaki, bahkan berkelahi bisa terjadi karena sikap agresif timbul dari stres yang berlebihan.

10. Macet hasilkan respons emosional berupa keluhan/teriakan & respons fisiologis berupa kelelahan, pegal-pegal, atau pingsan.

11. Tubuh stres yang diperparah dengan kondisi tubuh lelah akan berakibat negatif pada lingkungan terdekat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here