Hanya dengan tusuk gigi dan kunyit dan menunggu sekitar 5-10 detik kita sudah bisa mengetahui apakah bakso yang akan kita konsumsi mengandung pengawet kimia berbahaya Boraks. Metode ini dipopulerkan oleh Dayu dan Luthfia dan berhasil meraih penghargaan medali emas pada International Exhibition for Young Inventor (IEYI) 2014, ajang kompetisi inovasi untuk remaja dan pemuda. Mereka menamakan temuannya SIBODEC (stick of boraks detector).

Caranya mudah, tusukkan tusuk gigi bersih pada kunyit, lalu tusukkan pada bakso atau makanan lain yang ingin kita uji, diamkan 1-2 detik lalu cabut kembali tusuk giginya, tunggu 5-10 detik lapisan kunyit pada tusuk gigi bereaksi dengan kandungan makanan yang kita uji.

Bila tidak mengandung boraks warnanya akan tetap kuning. Bila mengandung boraks, tusuk gigi yang kena kunyit akan berubah warna menjadi merah.

Penggunaan boraks ke dalam bahan makanan akan membuat makanan tersebut tahan lama dan lebih kenyal, namun boraks bukan jenis pengawet makanan yang aman bila dikonsumsi berlebihan.

Boraks akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bila dikonsumsi lebih dari 1 gram untuk setiap 1 kilogram makanan.

Boraks mengakibatkan nafsu makan berkurang, gangguan pencernaan, kebingungan, radang kulit, pusing, mual, muntah, anemia, kejang dan keracunan. Pada anak kecil dan bayi bila dalam tubungnya kandungan boraks lebih dari 5 gram atau lebih bisa mengakibatkan kematian. Pada orang dewasa bila mengkonsumsi 10-20 gram atau lebih juga bisa mengakibatkan kematian.

borax 3

Walaupun ada ambang batas aman makanan yang diberi boraks, Bakso33 Makassar sama sekali tidak menggunakan boraks atau pengawet kimia lainnya.

Kesadaran menjaga kesehatan sesama lebih penting dari pada meraup keuntungan finansial harus dimiliki oleh semua produsen makanan dan minuman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here